Tulisan Terbaru

Apa yang terlintas dalam pikiran anda ketika mendengar atau membaca berita media massa online maupun konvensional yang hampir tiap hari mena...

Haluan Kata : Sebuah Renungan

Haluan Kata :  Sebuah Renungan - ahzoen.com
Apa yang terlintas dalam pikiran anda ketika mendengar atau membaca berita media massa online maupun konvensional yang hampir tiap hari menayangkan peristiwa kriminal berupa pelaku perampokan, penipuan bahkan pembunuhan yang hanya murni memiliki motif ingin menguasai atau memiliki harta si korban? Mungkin kita akan berpikir betapa jahatnya si pelaku ingin mendapatkan sesuatu dengan cara seperti itu. Padahal banyak jalan untuk mendapatkan rezeki yang baik dan halal. Apakah tidak memikirkan akibat atau resiko dari perbuatannya? Dimana hati nuraninya sebagai manusia hingga tega berbuat sekeji dan sekejam itu. 

Apakah hanya untuk sekedar mempertahankan hidupnya harus merugikan, menyakiti bahkan menghilangkan nyawa orang lain? Kita mungkin tak begitu heran jika  pelakunya memang memiliki latar belakang yang tidak baik, tidak pernah mengenyam pendidikan apapun, dan dibesarkan di lingkungan yang buruk hingga membuat mereka terbiasa berperilaku buruk. Namun jika ada pelaku kejahatan yang berpendidikan cukup tinggi, mengerti bahkan fasih bicara tentang agama, ini menimbulkan tanda tanya besar. Adakah yang salah?Ada sebagian manusia karena ambisinya untuk mendapatkan suatu posisi atau jabatan tertentu rela berbuat yang melanggar norma agama dan masyarakat seperti praktik suap menyuap, berlaku curang, dan  menghalalkan segala macam cara demi mewujudkan keinginannya. Dan ini fakta dalam  pergulatan kehidupan manusia di dunia.

Sudah jadi kodrat manusia di dunia ini dituntut untuk mempertahankan hidupnya. Memenuhi kebutuhan sehari-hari dari makan, minum, pakaian, rumah dan lain sebagainya sehingga mau tidak mau harus bekerja atau berusaha. Terdapat berbagai macam jenis usaha dan pekerjaan atau profesi yang baik dan halal dapat  menghasilkan pundi-pundi uang dan harta. Namun ternyata banyak manusia yang lupa diri ataupun memang tak mau tahu dengan aturan hukum karena keserakahannya. Mereka terjebak dalam tipu daya dunia, nafsu dan syetan dengan gaya hidup mewah, bermegah-megahan hingga ingin memiliki kekayaan yang berlimpah dan akhirnya ingin berkuasa atas manusia lainnya yang sama-sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Fenomena tersebut di atas sudah lazim terjadi dalam kehidupan sekarang ini. Pola hidup sederhana dan secukupnya sudah banyak ditinggalkan, bukan lagi berdasar kebutuhan tapi menurutkan keinginan hawa nafsunya. Saling berlomba untuk menaikkan status sosialnya lewat kekayaan dan jabatan. Hingga tak peduli waktu, siang malam hanya sibuk menurutkan syahwat duniawi. Lebih parah lagi, segala cara pun ditempuh yang penting keuntungan materi dan pujian manusia selalu didapatkan. 

Sadar atau tidak sadar sesungguhnya mereka telah menjadi budak dunia. Mereka tahu ada kehidupan setelah mati, tapi tetap saja mereka tak serius untuk mempersiapkan bekal apa yang seharusnya dipersiapkan. Mereka tahu, setelah jasad terbujur dan dimasukkan dalam kubur, tak ada satu pun harta kekayaan yang mereka kumpulkan dapat menyuap malaikat Munkar dan Nakir agar mereka dibebaskan dari siksa kubur. Namun tetap saja mereka terus berbuat maksiat seolah-olah mereka takkan pernah mati, padahal merekapun takkan sanggup menolak ketika malaikat Maut menjemputnya.

Andai saja mereka sadar dengan jati dirinya, untuk apa diciptakan dan apa sebenarnya yang menjadi tujuan akhir dari hidupnya. Maka mereka akan kembali sebelum berpulang menghadap  Sang Pencipta. Namun, segala petunjuk dan hidayah milik Allah dan akan diberikan kepada pencari jalan kebenaran. Bukan hanya sekedar tahu jalannya, tapi mau menempuh jalan itu. Bukan hanya tahu bicara ajaran agama  tapi yang terpenting bagaimana bisa mengamalkan ilmu agamanya dalam berbagai aspek kehidupannya. Agama ibarat suluh yang menerangi dan menunjukkan manusia agar selalu berada di jalan yang lurus.

0 Comments: