Tulisan Terbaru

Dalam kehidupan sehari-hari kita tentunya dihadapkan dengan berbagai aktivitas. Setiap orang memiliki perilaku dan kebiasaan yang berbeda-b...



Dalam kehidupan sehari-hari kita tentunya dihadapkan dengan berbagai aktivitas. Setiap orang memiliki perilaku dan kebiasaan yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi lingkungan tempat tinggal, pekerjaan, komunitas, dan adat istiadat setempat. Sungguh sangat beruntunglah bagi yang telah memiliki kebiasaan-kebiasaan yang baik sehingga segalanya berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri, orang lain dan hubungan dengan Tuhannya.

Setiap manusia dituntut untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya dalam upaya menciptakan harmonisasi dan kenyamanan sebagai makhluk sosial. Namun sebagai individu tentunya memiliki keunikan tersendiri sebagai simbol personalitasnya. Dan seringkali kekhasannya itulah yang menjadi penilaian orang lain sehingga munculnya berbagai predikat terhadapnya, misalnya : pemalas, sok alim, sombong, ramah, dekil, perlente dan lainnya ,baik penilaian positif maupun negatif. Semua itu bisa terjadi karena kebiasaan-kebiasaan yang sering terlihat oleh orang lain, sehingga dianggap hal biasa terlepas dari baik dan buruknya suatu kebiasaan tertentu.

Akan tetapi sebagai sebuah pribadi tentunya bukan hanya sekedar penilaian orang lain, tetapi memang harus memiliki keinginan untuk menjadi pribadi dengan kualitas tertentu. Itu sangat penting karena jika kita dikenal sebagai orang baik, memiliki kualitas pribadi yang unggul akan berpengaruh dengan status sosial, lebih bisa survival dalam menghadapi persoalan kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Dan sebagai insan yang beriman tentunya juga harus memperjuangkan hidupnya demi mencapai kesejahteraan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat kelak. Ini berarti nilai kebaikan yang terwujud dalam kebiasaan harus bernilai baik pada pandangan manusia maupun Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan yang pasti apapun yang jadi kebiasaan dan perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan kelak dihadapan Allah Yang Menguasai Hari Pembalasan.

Bagi yang telah memiliki kebiasaan baik yang berupa ucapan maupun perbuatan, hanya tinggal memperbaiki dengan niat yang benar, istiqamah, dan meningkatkannya baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Namun bagi yang belum memiliki kebiasaan-kebiasaan yang baik, tak ada kata terlambat untuk memulai suatu kebiasaan yang baik. Setidaknya lakukanlah lima hal di bawah ini :

Pertama, harus memiliki niat dan kiat yang kuat untuk berubah. Tanpa niat yang kuat semua akan sia-sia, karena merubah kebiasaan bukan hal mudah. Segala yang berhubungan dengan kebaikan pasti selalu berlawanan dengan keburukan, sedangkan nafsu manusia cenderung ke arah yang buruk dan keji, apalagi ditambah dengan bisikan syetan yang selalu meghalangi-halangi dari perbuatan yang baik. 

Kedua, bekali dengan ilmu. Sebelumnya agar lebih fokus yang ingin kita ubah, perlu kiranya instropeksi diri dan buatlah daftar sifat, sikap, kebiasaan tidak baik apa yang hendak diubah. Dan cari tahu apa akibatnya kebiasaan buruk itu dan apa manfaatnya jika diubah menjadi kebiasaan yang baik. Dengan mengetahui akibat buruk dan manfaat suatu kebiasaan dengan sendirinya makin mendorong jiwa untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Bacalah buku-buku tentang bagaimana menjadi pribadi yang baik dan menarik, buku-buku agama, ataupun mendengarkan ceramah agama yang sekarang ini sangat mudah didapatkan melalui media-media eletronik. Tinggal kita mau atau tidak untuk memperbaiki diri. Atau yang paling praktis jika ada yang dijadikan model atau figur yang diidolakan. Namun jangan sampai salah memilih figur dalam hal kebaikan.

Ketiga, latih dan biasakan kebiasaan itu secara kontinu setidaknya 2 – 3 bulan tanpa jeda. Insya Allah kebiasaan baik itu akan melekat dan akhirnya terasa ringan melakukannya. Memang benar all beginning is difficult, segala permulaan itu sulit. Tapi itulah proses yang harus dilakukan demi masa depan yang lebih baik.

Keempat, banyak berkumpul dan berinteraksi dengan komunitas yang memiliki kebiasaan yang sama agar saling mendukung dan menguatkan. Ini sangat nyata karena kondisi lingkungan sangat besar pengaruhnya. Makin banyak kesamaan dalam pola hidup dan kebiasaan makin ringan pula tantangan dan hambatan.

Kelima, istikamahkan sampai batas kemampuan kita, bahkan sampai akhir hidup kita di dunia ini agar kita mendapatkan husnul khatimah, berakhir yang artinya, akhir yang baik. Jika kita hidup di tengah-tengah lingkungan yang tidak kondusif. Pilihannya adalah hijrah. Namun yang lebih utama kita bertahan dan berupaya untuk menciptakan kondisi yang kita inginkan melalui keteladanan sehingga bisa menginspirasi orang-orang di sekitar kita. Dan tentunya setiap pilihan ada konsekuensinya masing-masing.

Kita harus yakin bahwa setiap kebaikan apapun bentuknya, baik yang berupa ucapan, perbuatan maupun sikap dan pola hidup yang sudah jadi kebiasaan kita pasti akan berakibat baik. Bukan hanya baik dan bermanfaat bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain serta siapapun yang berada di sekitar kita. Bukan hanya untuk kepentingan di dunia tapi buah kebiasaan baik akan memperoleh pahala di akhirat kelak. Apalagi jika kebiasaan baik yang telah menyatu dalam diri dan menjadi brand personality, tentunya akan menginspirasi orang banyak, dan Insya Allah itu juga termasuk amal jariyah yang terus mengalir pahalanya walaupun kita sudah meninggalkan dunia yang fana ini.

Yang perlu kita tegaskan di sini adalah apakah kebiasaan-kebiasaan kita ada hubungannya dengan agama, atau dengan kata lain apakah kebiasaan yang kita lakukan bernilai ibadah ataukah hanya sebatas kebiasaan yang biasa saja? Kebiasaan yang berkenaan atau bersumber dari sifat dan sikap manusia dan menjelma menjadi perbuatan disebut dengan akhlak. Sebagaimana dalam sebuah hadits populer yang sering kita dengar, bahwa misi diutusnya Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Kata akhlak secara bahasa diartikan dengan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat, tata krama, sopan santuan, adab dan tindakan. Sedangkan secara istilah akhlak merupakan tingkah laku atau sikap seseorang yang sudah menjadi kebiasaan setiap individu dan kebiasaan tersebut selalu terlihat dalam perbuatan sehari-hari.

Menurut Ibn Miskawaih (w.421 H/1030 M), yang dikenal sebagai pakar bidang akhlak terkemuka mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Lebih luas, Ibn Miskawaih mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gamblang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Maka bila sifat itu memunculkan perbuatan baik dan terpuji maka sifat itu disebut akhlak yang baik atau akhlakul karimah, dan bila yang muncul dari sifat itu perbuatan-perbuatan buruk maka disebut akhlak yang buruk atau akhlakul mazmumah (Beni Ahmad Saebani dan Abdul Hamid,2010).

Jadi jelaslah bahwa ternyata ada benang merah yang menghubungkan antara kebiasaan dengan akhlak. Secara umum sifat manusia ada yang baik dan ada yang buruk. Sifat dan sikap yang baik jika dibiasakan akan menjadi kebiasaan yang baik, misalnya selalu tersenyum ketika bertemu siapapun, menolong orang lain yang kesusahan, berbicara yang sopan, mengucapkan terima kasih, memberikan salam dan sebagainya. Jika sifat dan sikap baik itu terus menerus dilakukan akan menjadi kebiasaan yang baik atau dikatakan sebagai perbuatan yang baik.

Dan tak kalah pentingnya adalah kebiasaan yang bersumber dari perintah Allah atau syari’at Allah baik yang wajib maupun sunnah jika dikerjakan secara istikamah yang sering disebut dengan ibadah. Akhlak itu sendiri adalah buah dari keimanan dalam hati (akidah) dan ibadah yang dikerjakan. Hingga membentuk kharakter seseorang, sebagaimana Nabi Muhammad SAW adalah contoh nyata sebagai model atau figur manusia yang paling sempurna, sudah sepatutnya menjadi suri teladan bagi kita semua.

Di sini Penulis contohkan tujuh kebiasaan atau amalan harian yang dicintai yang selalu dilakukan Rasulullah Muhammad SAW, yaitu :

1. Salat Tahajud; hukumnya sunnah muakkad dan merupakan kebiasaan Rasulullah SAW sepanjang hidupnya. Allah berfirman dalam Surat Al Isra’ ayat 79, yang artinya;

“Dan pada sebagian malam hari shalat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji”.

Selain itu juga bahwa membiasakan bangun di sepertiga malam terakhir, kemudian menyempurnakan wudhu dan melaksanakan salat Tahajud, ternyata besar manfaatnya untuk kesehatan lahir maupun bathin.

2. Membaca Al-Qur’an; awali hari dengan membaca Al-Qur’an, sebaik-baik membaca Al Qur’an adalah sebelum terbit matahari. Manfaatnya antara lain yaitu menerangi hati kita dengan petunjuk Allah dan memberikan cahaya di alam kubur dan di akhirat. Menjadi obat hati dan tentunya juga berhubungan dengan kesehatan lahir dan bathin. Setiap yang dikatakan juga akan mengandung hikmah dan manfaat bagi orang lain

3. Bersegera ke masjid untuk salat berjemaah, terutama salat Shubuh. Dengan membiasakan salat awal waktu atau tepat waktu akan melatih kedisiplinan, Dan yang pasti akan membentuk diri mejadi pribadi yang lebih baik. Dan khusus salat Shubuh berjemaah melatih menjadi pribadi yang tidak pemalas,memberikan contoh baik bagi generasi penerus,dan sebagainya(Muhammad Zein,2018).

4. Salat Dhuha; dapat meningkatkan kualitas diri dan terhindar dari perilaku negatif. Karena bukan kewajiban bagi setiap Muslim, tentunya hanya yang memiliki dorongan atau motivasi tertentu yang bersedia melakukannya (tamasia.2020).

5. Bersedekah; sebagai wujud empati kepada orang lain, disamping pahala yang didapat banyak hal yang lain manfaat sedekah yaitu memberi rasa ketenangan hati, menghindarkan dari marabahaya, sebab mendapatkan husnul khatimah dan sebagainya (merdeka.com.2020).

6. Menjaga wudhu; manfaatnya antara lain : dicintai Allah SWT, menghapus dosa dan mengangkat derajat, menghilangkan virus dan kuman, menumbuhkembangkan akhlak yang mulia dan sebagainya (umroh.com,tt)

7. Istighfar, sekurang-kurangnya 70 kali setiap hari. Disamping mendapat pengampunan dosa, kebiasaan beristighfar dapat menghilangkan rasa malas, dimudahkan urusan dan sebagainya (Puti Yasmin,2019).

Ketujuh hal tersebut jika kita biasakan akan jadi kebiasaan yang luar biasa pengaruhnya dalam peningkatan kualitas pribadi kita sebagai hamba Allah sekaligus sebagai khalifatullatu fil ‘ard, wakil Allah di bumi, yang diberi mandat untuk memakmurkan dan mengelola segala yang ada di alam ini untuk sebaik-baiknya kemaslahatan seluruh makhluk. Dan kita akan tahu dan bisa merasakan manfaatnya jika kita sudah menjadikannya sebagai kebiasaan sehari-hari yang tentunya akan menjadikan kita pribadi yang lebih baik.


Kesimpulannya adalah tidak ada kata terlambat untuk meningkatkan kualitas diri menjadi pribadi yang lebih baik dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik disertai dengan niat dan motivasi yang benar. Pesona pribadi yang baik akan menginspirasi orang banyak, yang berarti bermanfaat bagi orang banyak dan menjadi amal jariyah bagi kita. Seperti yang sering dikatakan Aa Gym,yang terkenal dengan Manajemen Qalbunya,”Marilah kita mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil, mulai dari sekarang,”.Tanpa merendahkan siapapun, tanpa bermaksud menggurui, tetapi untuk saling memotivasi, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran, saling mendoakan yang terbaik agar hidup ini bermakna dan tidak merugi. Ihdinash shiraatal mustaqiim, semoga Allah memberikan hidayah dan petunjuk-Nya untuk kita semua, Aamiin.

Wallaahu ‘alam bishawab, fastabiqul khairat. Alhamdulillah. 

                      Kayong Utara, 2 Desember 2020




Apa yang terlintas dalam pikiran anda ketika mendengar atau membaca berita media massa online maupun konvensional yang hampir tiap hari mena...

Haluan Kata :  Sebuah Renungan - ahzoen.com
Apa yang terlintas dalam pikiran anda ketika mendengar atau membaca berita media massa online maupun konvensional yang hampir tiap hari menayangkan peristiwa kriminal berupa pelaku perampokan, penipuan bahkan pembunuhan yang hanya murni memiliki motif ingin menguasai atau memiliki harta si korban? Mungkin kita akan berpikir betapa jahatnya si pelaku ingin mendapatkan sesuatu dengan cara seperti itu. Padahal banyak jalan untuk mendapatkan rezeki yang baik dan halal. Apakah tidak memikirkan akibat atau resiko dari perbuatannya? Dimana hati nuraninya sebagai manusia hingga tega berbuat sekeji dan sekejam itu. 

Apakah hanya untuk sekedar mempertahankan hidupnya harus merugikan, menyakiti bahkan menghilangkan nyawa orang lain? Kita mungkin tak begitu heran jika  pelakunya memang memiliki latar belakang yang tidak baik, tidak pernah mengenyam pendidikan apapun, dan dibesarkan di lingkungan yang buruk hingga membuat mereka terbiasa berperilaku buruk. Namun jika ada pelaku kejahatan yang berpendidikan cukup tinggi, mengerti bahkan fasih bicara tentang agama, ini menimbulkan tanda tanya besar. Adakah yang salah?Ada sebagian manusia karena ambisinya untuk mendapatkan suatu posisi atau jabatan tertentu rela berbuat yang melanggar norma agama dan masyarakat seperti praktik suap menyuap, berlaku curang, dan  menghalalkan segala macam cara demi mewujudkan keinginannya. Dan ini fakta dalam  pergulatan kehidupan manusia di dunia.

Sudah jadi kodrat manusia di dunia ini dituntut untuk mempertahankan hidupnya. Memenuhi kebutuhan sehari-hari dari makan, minum, pakaian, rumah dan lain sebagainya sehingga mau tidak mau harus bekerja atau berusaha. Terdapat berbagai macam jenis usaha dan pekerjaan atau profesi yang baik dan halal dapat  menghasilkan pundi-pundi uang dan harta. Namun ternyata banyak manusia yang lupa diri ataupun memang tak mau tahu dengan aturan hukum karena keserakahannya. Mereka terjebak dalam tipu daya dunia, nafsu dan syetan dengan gaya hidup mewah, bermegah-megahan hingga ingin memiliki kekayaan yang berlimpah dan akhirnya ingin berkuasa atas manusia lainnya yang sama-sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Fenomena tersebut di atas sudah lazim terjadi dalam kehidupan sekarang ini. Pola hidup sederhana dan secukupnya sudah banyak ditinggalkan, bukan lagi berdasar kebutuhan tapi menurutkan keinginan hawa nafsunya. Saling berlomba untuk menaikkan status sosialnya lewat kekayaan dan jabatan. Hingga tak peduli waktu, siang malam hanya sibuk menurutkan syahwat duniawi. Lebih parah lagi, segala cara pun ditempuh yang penting keuntungan materi dan pujian manusia selalu didapatkan. 

Sadar atau tidak sadar sesungguhnya mereka telah menjadi budak dunia. Mereka tahu ada kehidupan setelah mati, tapi tetap saja mereka tak serius untuk mempersiapkan bekal apa yang seharusnya dipersiapkan. Mereka tahu, setelah jasad terbujur dan dimasukkan dalam kubur, tak ada satu pun harta kekayaan yang mereka kumpulkan dapat menyuap malaikat Munkar dan Nakir agar mereka dibebaskan dari siksa kubur. Namun tetap saja mereka terus berbuat maksiat seolah-olah mereka takkan pernah mati, padahal merekapun takkan sanggup menolak ketika malaikat Maut menjemputnya.

Andai saja mereka sadar dengan jati dirinya, untuk apa diciptakan dan apa sebenarnya yang menjadi tujuan akhir dari hidupnya. Maka mereka akan kembali sebelum berpulang menghadap  Sang Pencipta. Namun, segala petunjuk dan hidayah milik Allah dan akan diberikan kepada pencari jalan kebenaran. Bukan hanya sekedar tahu jalannya, tapi mau menempuh jalan itu. Bukan hanya tahu bicara ajaran agama  tapi yang terpenting bagaimana bisa mengamalkan ilmu agamanya dalam berbagai aspek kehidupannya. Agama ibarat suluh yang menerangi dan menunjukkan manusia agar selalu berada di jalan yang lurus.

 

 

Aksara Sang Pemimpi

Sumber : https://rahmatnawisiregar.wordpress.com SELAMAT TINGGAL Aku berkaca Ini muka penuh luka Siapa punya? Kudengar seru menderu .....dal...

Chairil Anwar - Selamat Tinggal
Sumber : https://rahmatnawisiregar.wordpress.com
















SELAMAT TINGGAL

Aku berkaca


Ini muka penuh luka

Siapa punya?


Kudengar seru menderu

.....dalam hatiku? .....

Apa hanya angin lalu?


Lagu lain pula

Menggelepar tengah malam buta


Ah.....................................??


Segala menebal, segala mengental

Segala tak kukenal .................................!!

Selamat Tinggal ...............................!!


------------------------------------------------------

Selamat Tinggal adalah salah satu puisi karya Chairil Anwar yang tidak bisa kupahami. Di benakku susunan kata-katanya tidak runtut. Bagaimana alur cerita dari puisi tersebut tidak kumengerti.

Saat mengatakan "Aku berkaca" terus diikuti kata-kata "Ini muka penuh luka. Siapa punya?"

Apakah yang dimaksudkan. Lukanya berasal dari mana? Apakah luka karena perang ataukah luka secara psikis. Siapa punya? Ini pertanyaan buat siapa? Ataukah sekedar pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Ataukah dia merasa tidak ada seorang pun yang memilikinya atau berharap akan kehadirannya. Ada nada keputuasaan. Seolah-olah tidak ada orang lain yang punya harapan padanya.

Kudengar seru menderu

.....dalam hatiku? .....

Apa hanya angin lalu?


Bagaimana ceritanya kok dilanjutkan dengan bait-bait seperti ini. Apa hubungannya dengan bait pertama, Kelihatan meloncat-loncat alur ceritanya, Ini setidaknya menurut saya.

Bagaimana mungkin menganggap gemuruhnya hatinya sekedar angin lalu. Apakah yang dimaksudkan, dia mulai gelisah. Gugup. Mulai kehilangan kesadaran.


Lagu lain pula

Menggelepar tengah malam buta


Lagu lain apa yang menggelepar di tengah malam buta. Selain kegelisahan yang dirasakannya apakah semakin bertambah dengan hadirnya bunyi-bunyian lain yang entah..dianggap memekakan telinga atau setidaknya membuat dirinya makin gundah. Gelisah, Semakin tidak terkendali.

Sampai akhirnya dia mulai menyerah.


Ah.....................................??


Segala menebal, segala mengental

Segala tak kukenal .................................!!

Selamat Tinggal ...............................!!


Apanya yang menebal apanya yang mengental. Apakah kesadarannya mulai nyaris hilang. Tidak mampu merasakan apa-apa lagi. Tidak bisa mengenali dirinya sendiri. Tidak bisa mengenali orang lain, Semakin melemah. Merasa sendiri. Sampai akhirnya hanya menyisakan kata-kata 

"Selamat Tinggal...................."

Mudah-mudahan dengan sedikit senyum di bibir.

Pada wikipedia.org juga dijelaskan tentang sebuah film yang dibuat berdasarkan buku yang ditulis oleh   G. Francis, terbit pada tahun 1896. ...

Pada wikipedia.org juga dijelaskan tentang sebuah film yang dibuat berdasarkan buku yang ditulis oleh  G. Francis, terbit pada tahun 1896. Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata seorang istri simpanan bernama Nyai Dasima. Nyai Dasima awalnya seorang gadis dari des Kuripan yang dijadikan istri simpanan oleh seorang bangsawan Inggris bernama bernama Edward William. Kemudian dia diboyong ke Batavia. Nyai Dasima terkenal dengan kecantikan dan kekayaannya. Sampai akhirnya dia rela menjadi istri Samiun lewat perantara Mak Buyung. Samiun sendiri sudah punya istri yang bernama Hayati.  Namun, setelah berhasil menjadikan Dasima sebagai istri mudanya, Samiun malah menyia-nyiakannya.

Dalam buku Nyai Dasimah, yang ditulis kembali oleh S.M. Ardian, banyak sekali penokohan yang dirombak termasuk juga latar belakang tradisi-budaya dan religi yang melingkupi kehidupan tokoh-tokohnya. Nyai Dasimah, sebagai sosok yang menjadi korban kolonial yang ingin mengembalikan jati dirinya sebagai pribumi. Dia datang ke Samiun atas keinginannya sendiri, bukan karena diguna-guna. Dia memang hidup bergelimang harta tetapi dibiarkan dalam kebodohan dan memang kehadirannya sebatas penyalur hasrat seksual kulit putih. Nyai Dasimah berontak, lari dan jatuh dalam pelukan Samiun. 

Menjadi istri muda dari Samiun, bukan berarti masalah selesai. Makin habisnya harta karena kelakuan Hayati, istri pertama Samiun dan tragisnya kematiannya akibat sabetan golok Bang Puasa menambah pilu kisah Nyai Dasimah ini. Apapun versinya, baik menurut G. Francis maupun versi S.M. Ardian, kenyataannya Nyai Dasimah telah mati. Entah didalangi oleh Tuan Edward William maupun oleh Samiun sendiri.

Nanar. Kepala berputar. Membayangkan kematian Nyai Dasimah.